MELATIH ANAK LEBIH MENGUTAMAKAN ILMU AGAMA ISLAM

Dinul Islam adalah salah satu undang-undang yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, yang akan mampu menjadikan seseorang berbudi pekerti luhur, selamat mengarungi hidup didunia sampai hari kiamat. Karena itu, sejak sedini mungkin hendaknya orang tua mengarahkan kepada anak-anaknya agar mereka mengetahui apa sebenarnya Dinul Islam itu? Sebagaimana kita tahu bahwa Rasulullah saw. dalam sabdanya (yang artinya) : Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”

Sabda Rasulullah saw. di atas sudah barang tentu bukan sekadar anjuran belaka, akan tetapi mengandung perintah kepada kita, bahwa para kepala keluarga Muslim berkewajiban mengajarkan kepada anggota keluarganya, agar mereka mngetahui ajaran Islam dan mampu mengamalkannya. Karena kebaikan rumah-tangga seseorang sangat ditentukan oleh ilmu dan amal perbuatan yang didasari dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. tersebut. Selain itu, dengan adanya ilmu pengetahuan Agama Islam dalam diri anak, akan menjadikan anak mampu menangkal berbagai macam dekadensi moral yang ada di masyarakat.

Kita tentunya tidak bisa mengatakan seseorang dianggap baik, tatkala kita melihat dia dapat melakukan sholat, berpuasa, membaca Al-Qur’an sekali waktu, alias tidak rutin. Dalam konteks keluarga, penegakan budaya mengutamakan ajaran Islam dalam praktek keseharian seperti halnya : sholat dengan berjama’ah, membaca Al Qur’an, melakukan puasa sunnah, mengucapkan salam, menutup aurat bagi anak-anak perempuan, dan yang lainnya hendaknya menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diri seluruh anggota keluarga.

Mengajarkan anak-anak tentang dinul Islam, memang tidak dengan cara indoktrinasi. Kita perlu menuntut mereka dengan penuh pengertian, kesabaran dan ketekunan, yakni dengan cara membiasakan anak-anak dalam melaksanakan ajaran Islam sesuai dengan kemampuannya. Karena menumbuhkan dan membiasakan perilaku sehari-hari sesuai dengan tuntunan Islam pada anak-anak akan lebih efektif, maka seyogyanya para orang tua dapat memberikan qudwah hasanah dalam penegakan ajaran Agama Islam yang baik di mata anak-anak mereka. Walaupun dengan cara inipun belum tentu anak-anak akan mampu mencontoh orang tua dengan baik.

Membiasakan anak sejak kecil dalam menjalani sesuatu yang baik, sesuai dengan ajaran Islam akan lebih efektif dan mudah, dibanding jika anak-anak sudah mulai dewasa. Sebagai contoh dalam hal bicara, sejak kecil sudah diperkenalkan dengan menggunakan kata-kata : haram, halal, wajib, sunnah, dosa, kifarat, qishoh, qadlo’, qadar dan yang lainnya, walaupun dia belum tahu apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat tersebut,

Anak-anak yang rajin sholat, puasa, membaca Al-Qur’an, penurut, serta giat belajar dan giat membantu orang tua, tentu menjadi dambaan setiap orang tua. Akan tetapi masalahnya, bagaimana cara menumbuhkan sifat dan perilaku positif sesuai sunnah Rasulullah saw, pada anak-anak kita?

Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari agar anak lebih gemar mempelajari Agama Islam dari pada yang lainnya, mudah-mudahan bisa menjadi pedoman praktis, sederhana untuk melatih anak-anak dalam mendalami ajaran Agama Islam.

  1. Tunjukkan di mata anak-anak, bahwa kita sebagai orang tua yang baik, dan faham dinullah Al-Islam di mata mereka, khususnya dalam mempraktekkan ajaran Islam. Artinya, hendaklah kita memperlihatkan kepada anak akan kesungguhan kita dalam mempelajari dinullah Al-Islam, dan memperlihatkan juga amalan-amalan yang menujukkan kuatnya keislaman kita.
  2. Hormati waktu-waktu Islam dan nilai-nilainya dalam rumah tangga kita. Misalnya, kita mematikan tivi, tape-recorder, radio dan semua kegiatan pada saat adzan di kumandangkan, tidak mengumandangkan suara-suara lain di dalam rumah kita, selain bacaan Al Qur’an, nasyid Islami, atau lagu-lagu yang mengandung nilai-nilai pendidikan Islam.
  3. Jadikan keluarga sebagai basic ilmu dan pengamalan dalam Ajaran Agama Islam, yang dibimbing oleh orang tua. Sebagai contoh : anak-anak kita berikan tugas secara bergantian, dalam pelaksanaan sholat jama’ah misalnya : siapa yang bertugas menggelar tikar, petugas adzan/qomat, sebagai imam, dan petugas kultum (taushiyah), dilakukan secara bergiliran, jika sholat dilaksanakan dirumah.
  4. Biasakan anak-anak membaca Al-Qur’an, sesekali berikan pengertian yang terkandung dalam ¬†ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga tertanam didalam pikiran mereka perlunya mempelajari dan mengamalkan Ajaran Islam. Kalau perlu rangsang mereka dengan hadiah, yang paling baik bacaan Al-Qur’annya, kita beri hadiah yang menarik, atau, mereka yang sudah mampu mengkhatamkan /menghafal surat-surat pendek, diberikan penghargaan yang menarik. Untuk itu, perlu dibuat sistem evaluasi sederhana yang bisa diaplikasi dengan mudah dan dilakukan secara kontinyu.
  5. Jika perlu kita membuat perlombaan tentang pengetahuan sholat, adzan, baca Al-Qur’an, tahsin Al-Qur’an, hafalan surat-surat pendek, dengan hadiah-hadiah yang menarik, dengan melibatkan anak-anak para tetangga kita. Atau dibuat pengajian rutin keluarga khusus untuk anak-anak, utamanya memfokuskan pada bahasan tentang pentingnya pendidikan Agama Islam dan pengamalannya bagi anak-anak sejak dini. Adapun tempatnya bisa digilir, sesuai dengan kesepakatan.
  6. Sesekali waktu juga perlu diadakan ujian, tes kemampuan tentang sejauh mana ilmu pengetahuan Agama Islam yang dimiliki oleh anak-anak, untuk menarik perhatian mereka,  biar anak senang dan tidak merasa dibebani, berikan hadiah-hadiah yang menarik bagi yang mempunyai kelebihan dibanding dengan yang lain.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan berkaitan dengan menarik perhatian anak agar lebih gemar mempelajari ilmu Agama Islam, sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *